Senin, 18 Mei 2015

tugas bikin video tentang Telkom University

Diposting oleh Unknown di 05.15 0 komentar

MAKALAH Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Penilaian Tugas Kelompok Pada Mata Kuliah Perilaku Konsumen Viral Marketing

Diposting oleh Unknown di 04.50 0 komentar

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Penilaian Tugas Kelompok
Pada Mata Kuliah Perilaku Konsumen
Viral Marketing





    Disusun oleh :
1.     Catleeya Januaristi
2.     Nurmalita Sekar
3.     Dinda Nindya Putri 
4.     Ali Mustofa
5.     Mega Putri



PROGRAM STUDI D3 MANAJEMEN PEMASARAN
FAKULTAS ILMU TERAPAN
UNIVERSITAS TELKOM
2014



Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas menulis makalah perilaku konsumen dengan baik. Adapun tujuan penulisan makalah tentang viral marketing ini dibuat yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah perilaku konsumen.
Dalam penyusunan dan penulisan makalah tentang viral marketing ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini,penulis dengan senang hati menyampaikan terima kasih kepada Bapak Rahmat Hidayat, teman-teman serta semua dukungan dari pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan penulisan dan penyusunan makalah ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semuanya. Demi perbaikan selanjutnya,saran dan kritik yang membangun akan penulis terima dengan senang hati. Akhirnya, hanya kepada Allah SWT penulis serahkan segalanya mudah-mudahan dapat bermanfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi kita semua.

Bandung,  Maret 2015
                                                                                                                                           Penulis,


  









1.1 Latar Belakang
    Saat ini banyak perkembangan teknologi yang digunakan di dalam kegiatan marketing, diantaranya Viral marketing atau disebut juga WOM (word of mouth). Banyak orang menganngap bahwa viral marketing adalah MLM (multi level marketing). Viral marketing tentu saja sangat berbeda dengan MLM (multi level marketing). Dalam MLM, anggota harus membeli starter kit dan mengikuti acara-acara seminar yang diadakan oleh perusahaan dan harus menjual produk produk perusahan. Namun tidak demikian dengan viral marketing.
Perkembangan viral marketing yang sangat pesat di Indonesia dari mulut ke mulut sebagai sarana komunikasi sehari-hari menjadikan produk beredar secara luas dalam masyarakat. Seiring dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya pemasaran interaktif, istilah word of mouth ini meluas jangkauannya menjadi virtual word of mouth, dimana informasi dipertukarkan melalui dunia maya
Viral marketing saat ini memanfaatkan jaringan dari orang ke orang  untuk menyebarkan pesan-pesan pemasaran tentang bisnis online. Segala bentuk komunikasi seperti teks , foto,  berita,  atau video  dapat diteruskan melalui e-mail,website, media sosial dan fasilitas internet lainnya.Viral marketing saat ini secara umum sangat bergantung pada teknologi internet, dimana konsumen sangat memahami penggunaan internet dan menggunakan internet sebagai sarana berkomunikasi sehari-hari. viral marketing dapat disebut juga fenomena marketing yang memfasilitasi dan mendorong masyarakat untuk menyebarkan pesan-pesan marketing secara sukarela.
1.2 Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui sikap konsumen terhadap Viral Marketing (Word of Mouth) dan bagaimana viral marketing bisa mempengaruhi konsumen.
1.3 Rumusan Masalah
1.      Apakah Viral marketing berpengaruh terhadap kepercayaan pelanggan ?
2.      Apakah viral marketing berpengaruh terhadap keputusan pembelian ?
3.      Apakah kepercayaan pelanggan berpengaruh terhadap keputusan pembelian ?
4.      Apakah internet marketing berpengaruh positif terhadap word of mouth?
5.      Apakah brand awareness berpengaruh positif terhadap word of mouth?
6.      Apakah word of mouth berpengaruh positif terhadap intention to buy ?




2.1 Definisi Viral Marketing
Dalam jurnal Amrin Rapi, Andi Mangkau, Andi Dian S.R. tahun 2012 dijelaskan definisi-definisi mengenai viral marketing :
 “Kaikati & Kaikati (2004) menjelaskan bahwa “Istilah "viral marketing" diperkenalkan oleh Steve Jurvetson (seorang penanam modal) pada 1996 ketika dia mendeskripsikan strategi pemasaran dari email gratis Hotmail dengan mengirimkan pesan "Get your private, free e-mail from at http://www.hotmail.com" bersamaan dengan rekomendasi secara implisit dari si pengirim tentang suatu produk. Dengan demikian, stealth marketing dalam bentuk viral marketing merupakan "word of mouth" melalui suatu media digital. Pemasaran jenis ini melibatkan penyebaran pesan melalui "word of mouse" dan memastikan bahwa penerima punya daya tarik terhadap pesan tersebut. Setelah mereka tertarik dengan pesan tersebut, diharapkan mereka dapat merekomendasikannya kepada temannya. Mendapat satu rekomendasi pribadi melalui e-mail dari seseorang yang anda ketahui adalah betul-betul lebih terpercaya dibandingkan satu e-mail tanpa nama”.
Widaharsana (2009) menjelaskan bahwa Viral Marketing adalah suatu teknik pemasaran dengan memanfaatkan jaringan sosial untuk mencapai suatu tujuan pemasaran tertentu yang dilakukan memalui proses komunikasi yang secara berantai memperbanyak diri. Secara umum Viral marketing merupakan teknik pemasaran yang berusaha membuat konsumen secara sukarela menyampaikan pesan pemasaran kepada konsumen lainnya. Namun bagaimana jika perusahaan secara sengaja membuat pesan Viral Marketing seolah-olah dari konsumen yang suka rela melakukannya. Hal inilah yang disebut Viral Marketing oleh Kaikati bersaudara (2004) dan dikenal sebagai Viral Stealth Marketing oleh Winzar dkk (2008). Winzar dkk (2008) membedakan istilah teknik pemasaran ini menjadi Viral Marketing (VM) dengan Viral Stealth Marketing. Menurut beliau, perbedaan mendasar dari keduanya adalah ketidaktransparan Viral Stealth Marketing dalam pendekatan pemasarannya”.

2.2 Ciri-Ciri Viral Marketing
1)      Produk dipromosikan melalui e-mail, jejaring sosial, komunitas atau situs iklan;
2)      Harga cukup murah karena biaya promosi sangat minim dan tidak menggunakan media iklan konvensional;
3)      Produk memiliki manfaat dan nilai guna;
4)      Produk dijual langsung hanya melalui satu orang alias tidak melalui perantara dan komisi penjualan diterima langsung oleh si penjual;
5)      Mirip direct selling namun bukan merupakan system DS, MLM atau system pyramid sehingga harga jual lebih murah. Kalaupun ada, sedikit

2.3 Keuntungan Viral Marketing
a.       Promosi melalui internet membuat lebih cepat, hemat waktu dan biaya promosi.
b.      Bisa disampaikan kepada siapa saja yang memiliki dan bisa memakai internet.
c.       Harga produk sangat murah karena biaya promosi nol.
d.      Promosi bisa dilakukan siapa saja yang bisa memakai internet, tidak harus karyawan perusahaan dari produk tersebut.
e.       Produk yang dijual berfungsi untuk dipakai (useable).
f.       Promosi yang efektif, produk yang sudah dikenal luas dan memiliki reputasi baik cepat mendapat konsumen dan hasil penjuallan yang besar.

2.4 Kerugian Viral Marketing
a.       Proses bisa dianggap spam bila disampaikan pada media yang tidak cocok.
b.      Orang yang menerima email promosi Viral Marketing tidak suka menerimanya dan menggangap sebagai gangguan. Akibatnya perusahaan dan produknya bisa mendapat citra negatif.
c.       Produk yang dijual tidak tersedia secara bebas, hanya melalui penjualan langsung lewat Viral Marketing secara ekslusif.
d.      Masih banyak orang yang menggangap berjual beli di internet sebagai penipuan.
e.       Tidak semua orang mengerti cara berjualan atau membeli barang di internet.
f.       Tidak semua orang tertarik menjual atau membeli barang di internet.

2.5 Struktur Dasar Viral Marketing
Menurut Zien dalam Skrob (2005:6), viral marketing dapat dibagi menjadi dua struktur dasar, yaitu active viral marketing dan frictionless viral marketing.
1) Active Viral Marketing
Active Viral Marketing diasosiasikan dengan konsep tradisional word-of-mouth karena pemakai biasanya terlibat secara personal pada proses menjaring konsumen baru.

2) Frictionless Viral Marketing
Frictionless Viral Marketing berbada dengan active viral marketing karena tidak mensyaratkan partisipasi aktif dari konsumen untuk mengiklankan atau menyebarkan informasi suatu produk. Produk akan secara otomatis mengirimkan pesan promosi pada alamat yang dituju. Jadi dorongan awal untuk viral didahului perusahaan pembuat produk sendiri.

2.6 Strategi Viral Marketing
Menurut Skrob (2005:8) secara umum, strategi viral marketing dapat dibagi menjadi dua kelompok dilihat dari derajat keterlibatan konsumen dalam proses pemasaran.
1) Low Intergration Strategy
Dalam strategi ini keterlibatan konsumen sangat sedikit. Penyebaran promosi hanya melalui email. Contoh rekomendasinya juga terbatas pada tombol “kirim ke teman” dalam suatu homepage.
2) High Intergration Strategy
Perbedaan dalam strategi ini adalah adanya keterlibatan konsumen secara langsung dalam membidik konsumen baru.

2.7 Komponen Kognitif Viral Marketing
Komponen kognitif dari kepercayaan pada pembelian melalui strategi pemasaran viral marketing terdiri dari:
1) Competence (Kompetensi) dihubungkan dengan persepsi konsumen terhadap pengetahuan dan keahlian pihak lainnya untuk melengkapi kebutuhan mereka.
2) Honesty (Kejujuran) sebagai keyakinan bahwa sekelompok orang yang menjadi pihak akan menjaga ucapan mereka dalam memenuhi janji mereka dan tulus. Elemen kepercayaan merupakan komponen yang sangat dibutuhkan untuk kebaikan, perkembangan dan hubungan (relationship) antara perusahaan dan pelanggan.
3) Benevolence (Kebajikan) sebagai cerminan atau refleksi dari keyakinan bahwa sekelompok orang tertarik untuk menjadi seseorang yang bermanfaat atau berguna bagi orang lain. Khususnya, kebajikan berkenaan dengan keinginan seseorang lainnya untuk berusaha menemukan tujuan yang sama
2.8 Keputusan Pembelian
a)      Keputusan pembelian itu sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, yaitu dalam kelompok referensi, dimana kelompok referensi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang mempunyai pengaruh langsung
b)      Proses Keputusan Pembelian
Perilaku Pasca Pembelian

Keputusan Pembelian

Evaluasi
Alternatif

Pencarian Informasi


Pengenalan Masalah


Kegiatan pembelian merupakan suatu rangkaian tindakan fisik maupun mental yang dialami seorang konsumen dalam melakukan pembelian. Menurut Kotler dan Keller (2009:184), tahap-tahap dalam keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen yaitu :





Gambar 1. Model Lima Tahap Proses
Keputusan Pembelian
Sumber: Kotler dan Keller (2006:181)

2.9 Internet Marketing
Mulia (2009) mengatakan bahwa internet marketing adalah sarana untuk memasarkan produk/jasa
melalui internet. Internet marketing juga merupakan aplikasi dari internet dan teknologi-teknologi digital
terkait untuk mencapai tujuan-tujuan pemasaran, teknologi-teknologi itu seperti media internet, kabelkabel,
satelit, perangkat keras, perangkat lunak yang diperlukan untuk keperluan internet marketing
tersebut (Chaffey et al, 2000).
Hal ini mencakup aspek perencanaan, penetapan harga, promosi, dan distribusi. Internet marketing
juga menggabungkan aspek-aspek teknik dan kreatif dari internet itu sendiri, yang di dalamnya
termasuk desain, pengembangan, periklanan, dan penjualan (Wikipedia, 2010).


2.10  Brand Awareness
Brand Awareness adalah kondisi dimana seorang konsumen tahu dan sadar mengenai keberadaan
sebuah produk di pasaran dengan sendirinya tanpa harus diberi pancingan-pancingan tertentu
mengenai sebuah kategori sebuah merek. Kesadaran merek adalah sebuah kemampuan dari seorang
pembeli potensial untuk mengenali atau memanggil ulang (mengingat) bahwa sebuah merek adalah
bagian dari sebuah kategori produk tertentu (Aaker,1991: 61).
Jadi tingkat Brand Awareness dapat diukur dengan melihat bagaimana sebuah merek tersebut dapat
dengan mudah dikenali dan diingat kembali oleh seorang konsumen. Biasanya untuk mendapatkan
tingkat Brand Awareness yang tinggi maka perusahaan harus dapat mengikat emosi konsumen dengan
berbagai komunikasi pemasaran, atribut dan nilai dari produk tersebut yang berkenaan secara
emosional dengan konsumen (Emotional Bonding). Brand Awareness adalah bagian dari sebuah
brand equity, dan Brand Awareness adalah sebuah tingkat dimana sebuah merek yang dulu tidak
dikenal menjadi dikenal sekarang. Lebih jelasnya pada gambar berikut ini yang menjelaskan
bagaimana perkembangan sebuah merek dari awal hingga akhir.
Brand Awareness sendiri mempunyai empat tingkatan untuk dapat membentuk suatu nilai didalam
benak calon konsumen. Menurut Aaker dan Simamora dalam Haryanto (2009) empat tingkatan tersebut
adalah : pertama Tidak menyadari merek (Brand Unaware) pada tingkat ini konsumen tidak sadar akan
keberadaan merek-merek di pasaran, dan didalam benaknya semua merek adalah sama dengan tidak
mempedulikan kualitas dari merek tersebut. Kedua Pengenalan merek (Brand Recognition) pada
tingkat ini konsumen mampu untuk mengenali merek dan memberikan nama merek sebagai petunjuk,
dengan diberikan rangsangan yang cukup besar mengenai satu kategori produk tertentu. Ketiga
Pengingatan kembali merek (Brand Recall) pada tingkat ini konsumen konsumen tidak perlu diberikan
suatu rangsangan untuk menyebutkan merek-merek tertentu didalam pasaran. Keempat puncak
pikiran (Top of Mind) adalah merek yang pertama kali muncul didalam benak seorang konsumen dan
disebutkan ketika ditanya mengenai sebuah kategori produk yang ada di pasaran.
Hal ini berarti merek dari produk tersebut telah mencapai tingkat kesadaran yang tinggi didalam benak
konsumen dan merek tersebut dapat dikatakan sebagai pimpinan merek didalam kategori merek
tersebut. Peran brand awareness terhadap brand equity dapat dipahami dengan membahas
bagaimana brand awareness menciptakan suatu nilai.


2.11 Intention to Buy
Intensi didefinisikan sebagai kemungkinan subyektif individu untuk melakukan suatu perilaku (Gunter & Furnham dalam Haryanto, 2009). Intensi juga merupakan unit dasar dalam jaringan rencana yang akan muncul ketika seorang individu hendak melakukan suatu aktivitas kognitif yang berorientasi kepada
masa depan, seperti perencanaan, berangan-angan, perenungan, dan simulasi mental (Rook, 1987
dalam Haryanto, 2009). Menurut Soderlund dan Ohman dalam Haryanto (2009), Intensi terbagi menjadi
tiga jenis konstruk yaitu : (1) intensi sebagai harapan (2) intensi sebagai rencana (3) intensi sebagai
keinginan. Kebanyakan orang lebih sering menggunakan konstruk intensi sebagai harapan, karena itu
konstruk ini lebih popular dibandingkan dengan dua konstruk yang lain (Rook,1987 dalam Haryanto,
2009).



3.1 Pengaruh Viral Marketing terhadap Kepercayaan Pelanggan
Dalam jurnal Natasya Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
Berdasarkan hasil perhitungan distribusi frekuensi nilai mean pada variabel Viral Marketing (X) sebesar 3,25 menunjukan rata-rata responden pada indikator varibael Viral Marketing (X) adalah setuju. Variabel Viral Marketing (X) yang terdiri dari rekomendasi, newsletter, lingking strategies, komunitas, free offer, reference list, product test. Berdasarkan hasil perhitungan secara statistik, yang menunjukan bahwa variabel Viral Marketing (X) berpengaruh terhadap Kepercayaan Pelanggan (Z) dengan nilai Standarized Coefficient Beta sebesar 0,763. Nilai probabilitas Sig 0,000 (0,000 < 0,05), maka dari itu hipotesis yang menyatakan bahwa Viral Marketing (X) berpengaruh signifikan terhadap Kepercayaan Pelanggan (Y) dapat diterima.
Kepercayaan pada pelanggan yang dihasilkan dari kepuasaan akan produk yang telah di beli melalui pembelian online, yang akhirnya konsumen akan menyebarkan atau menyampaikan tentang produk tersebut kepada teman, tetangga atau keluarganya. Menurut Kotler dan Armstrong (2004:90) menyatakan bahwa “Viral marketing is the internet version of word-of-mouth marketing, that involves creating an e-mail massage or other marketing event that is so infectious that customers will want to pass it along to their friend”. Artinya, bahwa versi internet dari penggunaan pemasaran dari mulut ke mulut, yang sangat berhubungan dengan menciptakan email atau pemasaran yang sangat menular sehingga konsumen mau menyampaikan kepada temen mereka. Kepercayaan Pelanggan (Z) berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian (Y) dapat diterima”.

3.2 Pengaruh Viral Marketing terhadap Keputusan Pembelian
Dalam Jurnal Natasya Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
“Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Viral Marketing (X) mempunyai pengaruh terhadap Keputusan Pembelian (Y). Viral Marketing (X) memberikan pengaruh secara langsung terhadap Keputusan Pembelian (Y) sebesar nilai 0,247 dengan nilai probabilitas t sebesar 0,034 (0,034 < 0,05). Maka secara langsung variabel Viral Marketing (X) mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat yaitu Keputusan Pembelian (Y) dapat diterima.
Konsumen akan lebih tertarik pada suatu produk yang telah di beli oleh teman, keluarga atau tetangganya. Lebih percaya opini mereka dan mudah terpengaruh oleh apa yang dilakukan mereka. Kotler (2002:638) mengatakan bahwa komunikasi dari mulut ke mulut bersifat lebih meyakinkan.Kata-kata yang keluar dari mulut merupakan satu-satunya promosi yang berawal dari konsumen oleh konsumen dan untuk konsumen”.

3.3 Pengaruh Kepercayaan Pelanggan terhadap Keputusan Pembelian
Dalam Jurnal Natasya Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
“Hasil distribusi frekuensi menunjukan bahwa nilai mean pada variabel Kepercayaan Pelanggan (Z) adalah sebesar 3,67 yang menunjukan bahwa rata-rata responden pada indikator variabel Kepercayaan Pelanggan (Z) adalah setuju. Berdasarkan perhitungan statistik, diperoleh bahwa variabel Kepercayaan Pelanggan (Z) berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian (Y). Hal ini berdasarkan nilai Standarized Coefficient Beta sebesar 0,401, nilai probabilitas Sig 0,001 (0,001< 0,05). Jadi, dapat dinyatakan bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa variabel Kepercayaan Pelanggan (Z) berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian (Y) dapat diterima.
Kepercayaan pelanggan ditunjukan dari desain website dan foto yang menarik dapat meningkatkan rasa percaya konsumen serta pada saat konsumen melakukan transaksi pembayaran dengan mengirimkan informasi transaksi pembayaran dan data pribadi lainnya.Menurut Egger (2006) cukup percaya perlu ada ketika menempatkan pesanan online dan ketika konsumen mengirimkan informasi keuangan dan data pribadi lainnya dalam melakukan transaksi keuangan”.

3.4  Pengaruh Internet Marketing Terhadap Pembentukan Viral Marketing
Dalam Jurnal Natasya Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
“Selain iklan yang bagus, internet marketing dapat dilakukan dengan mengadakan promo-promo dengan memberikan sampel produk gratis selama beberapa waktu atau program-program kupon diskon yang sengaja dibuat oleh perusahaan untuk menarik dan membuat produknya dibicarakan, dipromosikan, bahkan dijual oleh konsumennya sendiri (Amplified WOM) .Semakin program-program dan produk-produk yang ditawarkan unik dan lain daripada yang lain dan menguntungkan konsumen maka akan semakin besar kemungkinannya untuk dibicarakan diantara konsumen karena konsumen merasa puas dan dihargai, bukan sebagai obyek pemasaran lagi tapi lebih kepada partner bagi perusahaan. Seorang konsumen yang puas, dilayani, dan diperhatikan, mempunyai potensi besar untuk dapat menjadi fans merek produk tertentu yang membuatnya menjadi profitable talkers bagi perusahaan (SWA 08/XXV/16-29 April 2009). Contoh kasus adalah Neistat bersaudara yang tidak puas dengan salah satu produk apple, yaitu ipod yang kemudian menyebarkan Negatif word of mouth kepada jutaan orang melalui internet. Namun melalui program public relation internet, pihak Apple dapat meredam “kemarahan” neistat bersaudara dengan mendengarkan, menerima komplain, dan bahkan menjadikannya sebagai dasar pembuatan kebijakan baru bagi perusahaan. Hal ini membuat neistat bersaudara kemudian berbalik 180 derajat menjadi corong ipod yang paling menguntungkan tanpa dibayar sepeser pun (SWA, edisi 11-24 juni 2009). Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa semakin perusahaan dapat mengelola internet marketing dengan baik maka akan semakin besar kemungkinannya perusahaan dan produknya dijadikan bahan pembicaraan di kalangan konsumen. Dari penjelasan diatas maka peneliti merumuskan hipotesis penelitian (H2) sebagai berikut : “Semakin baik internet marketing dikelola oleh perusahaan, maka merek produk perusahaan tersebut akan
semakin banyak dibicarakan oleh konsumen”.

3.5 Pengaruh Brand Awareness Terhadap Pembentukan Word of Mouth
Dalam Jurnal Natasya Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
“Produk dibagi kedalam banyak kategori. Menurut hasil survey SWA dengan Octovate Consulting Group (2009) didalam setiap kategori produk terdapat merek-merek yang menguasai dan menjadi Top of mind dibenak konsumen, dan menjadikannya merek-merek yang paling banyak direkomendasikan oleh seorang konsumen ketika seseorang menanyakan mengenai kategori produk tersebut kepadanya (disebut pertamakali). Hal ini menunjukkan kaitan yang erat antara tingkat kesadaran merek seorang konsumen dengan seberapa sering sebuah merek akan dibicarakan dari konsumen ke calon konsumen berikutnya. Dari penjelasan diatas maka peneliti merumuskan hipotesis penelitian (H4) sebagai berikut : “semakin tinggi
tingkat kesadaran merek didalam benak seorang konsumen, maka akan semakin sering merek tersebut dibicarakan oleh seorang konsumen kepada calon konsumen berikutnya”.

3.6  Pengaruh Word of Mouth Terhadap Pembentukan Intention to Buy
Seorang konsumen akan cenderung lebih percaya terhadap rekomendasi melalui jalur WOM daripada
metode promosi formal dikarenakan pemberi rekomendasi diyakini berbicara jujur,tulus dan tidak
ditunggangi oleh motif tersembunyi (Sumber : SWA 08/XXV/16-29 April 2009). Solomon (1999)
mengatakan bahwa WOM lebih kuat dari pada iklan-iklan mewah yang dibuat oleh perusahaanperusahaan.
Pendapat ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Cleland (2000) yang juga mengatakan
bahwa word of mouth cenderung lebih efektif dalam pemasaran sebuah produk. Para pemasar
menemukan bahwa WOM telah mempengaruhi kurang lebih dua per tiga penjualan barang-barang
konsumen, dan bahkan survey menunjukkan bahwa 69% konsumen membeli sebuah produk
berdasarkan anjuran dari seseorang yang telah dikenalnya. Tidak ada satu pun iklan atau penjual yang
akan mampu meyakinkan seorang konsumen secara persuasive tentang kualitas sebuah produk
kecuali seorang teman, kenalan, pelanggan lama atau ahli yang independen (Kotler dalam SWA
08/XXV/16-29 APRIL 2009).
Survey yang dilakukan oleh SWA dan Octovate consulting Group juga menemukan bahwa 67,78%
konsumen memutuskan untuk membeli sebuah produk yang direkomendasikan melalui jalur WOMM
(word of mouth marketing). Didukung oleh hasil Survey Nielsen Online Global Customer (2007) yang
juga menemukan bahwa sekitar 91% konsumen membeli sebuah produk berdasarkan rekomendasi
dari pengguna lain atau temannya.
Dari penjelasan diatas maka peneliti merumuskan hipotesis penelitian (H6) sebagai berikut : “semakin
banyak positif word of mouth yang diterima oleh seorang bakal konsumen, maka akan semakin tinggi
minat untuk membeli yang terbentuk didalam diri bakal konsumen”







4.1 Kesimpulan
Berdasarkan 15 jurnal tentang viral marketing, penulis memaparkan makalah viral marketing dan memberikan beberapa kesimpulan tentang makalah ini. Beberapa kesimpulan tersebut yaitu :

1.      1 Viral Marketing terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap Kepercayaan Pelanggan. Hal tersebut berarti Viral Marketing telah memberikan nilai dan pengaruh terhadap Kepercayaan Pelanggan.
2.      Viral Marketing terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Hal tersebut berarti kinerja Viral Marketing telah mampu membantu konsumen dalam melakukan Keputusan Pembelian.
3.      Kepercayaan Pelanggan terbukti menjadi variabel intervening dalam hubungan Viral Marketing dengan Keputusan Pembelian. Hal tersebut berarti jika Viral Marketing meningkat dan memberikan kinerja yang baik, maka Kepercayaan Pelanggan akan semakin membaik sehingga akan mempengaruhi Keputusan Pembelian.
“Semakin baik internet marketing dikelola oleh pelaku organisasi, maka merek produk  tersebut akan semakin banyak dibicarakan oleh konsumen      

  “semakin tinggi tingkat kesadaran merek didalam benak seorang konsumen, maka akan semakin sering merek tersebut dibicarakan oleh seorang konsumen kepada calon konsumen berikutnya”.

"semakin banyak positif word of mouth yang diterima oleh seorang bakal konsumen, maka akan semakin tinggi minat untuk membeli yang terbentuk didalam diri bakal konsumen”

4.2 Saran

1.perkembangan viral marketing yang pesat dibutuhkan adanya peraturan yang khusus mengatur mengenai viral marketing
2.Seorang pemasar harus lebih memahami tentang cara memasarkan suatu produk dengan cara terbaru atau trend terbaru yang lebih dipahami masyarakat

3.Memberikan informasi yang detail dan akurat mengenai produk yang ditawarkan akan meningkatkan pengetahuaan konsumen terhadap produk khususnya mengenai Viral Marketing, sehingga memudahkan konsumen dalam mengevaluasi produk untuk membantu dalam pengambilan keputusan


 

Dinda Nindya Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos