MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat
Penilaian Tugas Kelompok
Pada Mata Kuliah Perilaku Konsumen
Viral Marketing
Disusun oleh :
1. Catleeya Januaristi
2. Nurmalita Sekar
3. Dinda Nindya Putri
4. Ali Mustofa
5. Mega Putri
PROGRAM
STUDI D3 MANAJEMEN PEMASARAN
FAKULTAS
ILMU TERAPAN
UNIVERSITAS
TELKOM
2014
Dengan
mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas menulis makalah perilaku
konsumen dengan baik. Adapun tujuan penulisan makalah tentang viral marketing
ini dibuat yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah perilaku konsumen.
Dalam
penyusunan dan penulisan makalah tentang viral marketing ini tidak terlepas
dari bantuan, bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu
dalam kesempatan ini,penulis dengan senang hati menyampaikan terima kasih
kepada Bapak Rahmat Hidayat, teman-teman serta semua dukungan dari pihak-pihak
yang telah membantu kami dalam menyelesaikan penulisan dan penyusunan makalah
ini.
Semoga
Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semuanya. Demi
perbaikan selanjutnya,saran dan kritik yang membangun akan penulis terima
dengan senang hati. Akhirnya, hanya kepada Allah SWT penulis serahkan segalanya
mudah-mudahan dapat bermanfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi kita semua.
Bandung, Maret 2015
Penulis,
Saat
ini banyak perkembangan teknologi yang digunakan di dalam kegiatan marketing,
diantaranya Viral marketing atau disebut juga WOM (word of mouth). Banyak orang
menganngap bahwa viral marketing adalah MLM (multi level marketing). Viral
marketing tentu saja sangat berbeda dengan MLM (multi level marketing). Dalam
MLM, anggota harus membeli starter kit dan mengikuti acara-acara seminar yang
diadakan oleh perusahaan dan harus menjual produk produk perusahan. Namun tidak
demikian dengan viral marketing.
Perkembangan viral
marketing yang sangat pesat di Indonesia dari mulut ke mulut sebagai sarana
komunikasi sehari-hari menjadikan produk beredar secara luas dalam masyarakat.
Seiring dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya pemasaran interaktif,
istilah word of mouth ini meluas jangkauannya menjadi virtual word of mouth,
dimana informasi dipertukarkan melalui dunia maya
Viral marketing saat ini memanfaatkan jaringan dari orang ke
orang untuk menyebarkan pesan-pesan pemasaran tentang bisnis online.
Segala bentuk komunikasi seperti teks , foto, berita, atau
video dapat diteruskan melalui e-mail,website, media sosial dan fasilitas
internet lainnya.Viral marketing
saat
ini secara umum sangat bergantung pada teknologi internet, dimana konsumen
sangat memahami penggunaan internet dan menggunakan internet sebagai sarana
berkomunikasi sehari-hari. viral
marketing dapat disebut juga fenomena marketing yang memfasilitasi
dan mendorong masyarakat untuk menyebarkan pesan-pesan marketing secara
sukarela.
1.2 Tujuan Makalah
Adapun
tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui sikap konsumen
terhadap Viral Marketing (Word of Mouth) dan bagaimana viral marketing bisa
mempengaruhi konsumen.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apakah
Viral marketing berpengaruh terhadap kepercayaan pelanggan ?
2. Apakah viral marketing berpengaruh terhadap keputusan
pembelian ?
3. Apakah kepercayaan pelanggan berpengaruh terhadap
keputusan pembelian ?
4. Apakah
internet marketing berpengaruh
positif terhadap word of mouth?
5. Apakah
brand awareness berpengaruh
positif terhadap word of mouth?
6. Apakah
word of mouth berpengaruh
positif terhadap intention to buy ?
Dalam
jurnal Amrin Rapi, Andi Mangkau, Andi
Dian S.R. tahun 2012 dijelaskan definisi-definisi mengenai viral marketing :
“Kaikati
& Kaikati (2004) menjelaskan bahwa “Istilah "viral marketing"
diperkenalkan oleh Steve Jurvetson (seorang penanam modal) pada 1996 ketika dia
mendeskripsikan strategi pemasaran dari email gratis Hotmail dengan mengirimkan
pesan "Get your private, free e-mail from at http://www.hotmail.com" bersamaan
dengan rekomendasi secara implisit dari si pengirim tentang suatu produk.
Dengan demikian, stealth marketing dalam bentuk viral marketing merupakan
"word of mouth" melalui suatu media digital. Pemasaran jenis
ini melibatkan penyebaran pesan melalui "word of mouse" dan
memastikan bahwa penerima punya daya tarik terhadap pesan tersebut. Setelah
mereka tertarik dengan pesan tersebut, diharapkan mereka dapat
merekomendasikannya kepada temannya. Mendapat satu rekomendasi pribadi melalui
e-mail dari seseorang yang anda ketahui adalah betul-betul lebih terpercaya
dibandingkan satu e-mail tanpa nama”.
Widaharsana
(2009) menjelaskan bahwa Viral Marketing adalah suatu teknik pemasaran
dengan memanfaatkan jaringan sosial untuk mencapai suatu tujuan pemasaran
tertentu yang dilakukan memalui proses komunikasi yang secara berantai memperbanyak
diri. Secara umum Viral marketing merupakan teknik pemasaran yang
berusaha membuat konsumen secara sukarela menyampaikan pesan pemasaran kepada
konsumen lainnya. Namun bagaimana jika perusahaan secara sengaja membuat pesan Viral
Marketing seolah-olah dari konsumen yang suka rela melakukannya. Hal inilah
yang disebut Viral Marketing oleh Kaikati bersaudara (2004) dan dikenal
sebagai Viral Stealth Marketing oleh Winzar dkk (2008). Winzar dkk
(2008) membedakan istilah teknik pemasaran ini menjadi Viral Marketing (VM)
dengan Viral Stealth Marketing. Menurut beliau, perbedaan mendasar dari
keduanya adalah ketidaktransparan Viral Stealth Marketing dalam
pendekatan pemasarannya”.
1) Produk
dipromosikan melalui e-mail, jejaring sosial, komunitas atau situs iklan;
2) Harga cukup murah karena biaya promosi sangat minim
dan tidak menggunakan media iklan konvensional;
3) Produk memiliki manfaat dan nilai guna;
4) Produk dijual langsung hanya melalui satu orang alias tidak
melalui perantara dan komisi penjualan diterima langsung oleh si penjual;
5) Mirip direct selling namun bukan merupakan system DS,
MLM atau system pyramid sehingga harga jual lebih murah. Kalaupun ada, sedikit
a. Promosi
melalui internet membuat lebih cepat, hemat waktu dan biaya promosi.
b. Bisa
disampaikan kepada siapa saja yang memiliki dan bisa memakai internet.
c. Harga
produk sangat murah karena biaya promosi nol.
d. Promosi
bisa dilakukan siapa saja yang bisa memakai internet, tidak harus karyawan
perusahaan dari produk tersebut.
e. Produk
yang dijual berfungsi untuk dipakai (useable).
f. Promosi
yang efektif, produk yang sudah dikenal luas dan memiliki reputasi baik cepat
mendapat konsumen dan hasil penjuallan yang besar.
a. Proses
bisa dianggap spam bila disampaikan
pada media yang tidak cocok.
b. Orang
yang menerima email promosi Viral Marketing tidak suka menerimanya
dan menggangap sebagai gangguan. Akibatnya perusahaan dan produknya bisa
mendapat citra negatif.
c. Produk
yang dijual tidak tersedia secara bebas, hanya melalui penjualan langsung lewat
Viral Marketing secara ekslusif.
d. Masih
banyak orang yang menggangap berjual beli di internet sebagai penipuan.
e. Tidak
semua orang mengerti cara berjualan atau membeli barang di internet.
f. Tidak
semua orang tertarik menjual atau membeli barang di internet.
Menurut
Zien dalam Skrob (2005:6), viral marketing dapat dibagi menjadi dua
struktur dasar, yaitu active viral
marketing dan frictionless
viral marketing.
1) Active
Viral Marketing
Active Viral Marketing diasosiasikan
dengan konsep tradisional word-of-mouth
karena pemakai biasanya terlibat secara personal pada proses menjaring
konsumen baru.
2) Frictionless
Viral Marketing
Frictionless Viral Marketing berbada
dengan active viral marketing karena
tidak mensyaratkan partisipasi aktif dari konsumen untuk mengiklankan atau
menyebarkan informasi suatu produk. Produk akan secara otomatis mengirimkan
pesan promosi pada alamat yang dituju. Jadi dorongan awal untuk viral didahului perusahaan pembuat
produk sendiri.
Menurut
Skrob (2005:8) secara umum, strategi viral marketing dapat dibagi
menjadi dua kelompok dilihat dari derajat keterlibatan konsumen dalam proses
pemasaran.
1) Low
Intergration Strategy
Dalam
strategi ini keterlibatan konsumen sangat sedikit. Penyebaran promosi hanya
melalui email. Contoh
rekomendasinya juga terbatas pada tombol “kirim ke teman” dalam suatu homepage.
2) High
Intergration Strategy
Perbedaan
dalam strategi ini adalah adanya keterlibatan konsumen secara langsung dalam
membidik konsumen baru.
Komponen
kognitif dari kepercayaan pada pembelian melalui strategi pemasaran viral
marketing terdiri dari:
1) Competence (Kompetensi)
dihubungkan dengan persepsi konsumen terhadap pengetahuan dan keahlian pihak
lainnya untuk melengkapi kebutuhan mereka.
2) Honesty (Kejujuran)
sebagai keyakinan bahwa sekelompok orang yang menjadi pihak akan menjaga ucapan
mereka dalam memenuhi janji mereka dan tulus. Elemen kepercayaan merupakan
komponen yang sangat dibutuhkan untuk kebaikan, perkembangan dan hubungan (relationship)
antara perusahaan dan pelanggan.
3)
Benevolence (Kebajikan) sebagai cerminan atau refleksi dari keyakinan
bahwa sekelompok orang tertarik untuk menjadi seseorang yang bermanfaat atau
berguna bagi orang lain. Khususnya, kebajikan berkenaan dengan keinginan
seseorang lainnya untuk berusaha menemukan tujuan yang sama
2.8 Keputusan
Pembelian
a) Keputusan
pembelian itu sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, yaitu dalam kelompok
referensi, dimana kelompok referensi seseorang terdiri dari seluruh kelompok
yang mempunyai pengaruh langsung
b) Proses Keputusan Pembelian
Perilaku
Pasca Pembelian
|
Keputusan
Pembelian
|
Evaluasi
Alternatif
|
Pencarian
Informasi
|
Pengenalan Masalah
|
Gambar 1. Model Lima
Tahap Proses
Keputusan
Pembelian
Sumber:
Kotler dan Keller (2006:181)
Mulia (2009) mengatakan bahwa internet marketing adalah
sarana untuk memasarkan produk/jasa
melalui
internet. Internet marketing juga merupakan aplikasi dari internet dan
teknologi-teknologi digital
terkait
untuk mencapai tujuan-tujuan pemasaran, teknologi-teknologi itu seperti media
internet, kabelkabel,
satelit,
perangkat keras, perangkat lunak yang diperlukan untuk keperluan internet
marketing
tersebut
(Chaffey et al, 2000).
Hal
ini mencakup aspek perencanaan, penetapan harga, promosi, dan distribusi. Internet
marketing
juga
menggabungkan aspek-aspek teknik dan kreatif dari internet itu sendiri, yang di
dalamnya
termasuk
desain, pengembangan, periklanan, dan penjualan (Wikipedia, 2010).
Brand Awareness adalah
kondisi dimana seorang konsumen tahu dan sadar mengenai keberadaan
sebuah
produk di pasaran dengan sendirinya tanpa harus diberi pancingan-pancingan
tertentu
mengenai
sebuah kategori sebuah merek. Kesadaran merek adalah sebuah kemampuan dari
seorang
pembeli
potensial untuk mengenali atau memanggil ulang (mengingat) bahwa sebuah merek
adalah
bagian
dari sebuah kategori produk tertentu (Aaker,1991: 61).
Jadi
tingkat Brand Awareness dapat diukur dengan melihat bagaimana sebuah
merek tersebut dapat
dengan
mudah dikenali dan diingat kembali oleh seorang konsumen. Biasanya untuk
mendapatkan
tingkat
Brand Awareness yang tinggi maka perusahaan harus dapat mengikat emosi
konsumen dengan
berbagai
komunikasi pemasaran, atribut dan nilai dari produk tersebut yang berkenaan
secara
emosional
dengan konsumen (Emotional Bonding). Brand Awareness adalah
bagian dari sebuah
brand
equity, dan Brand Awareness adalah sebuah tingkat
dimana sebuah merek yang dulu tidak
dikenal
menjadi dikenal sekarang. Lebih jelasnya pada gambar berikut ini yang
menjelaskan
bagaimana
perkembangan sebuah merek dari awal hingga akhir.
Brand
Awareness sendiri mempunyai empat tingkatan untuk dapat
membentuk suatu nilai didalam
benak
calon konsumen. Menurut Aaker dan Simamora dalam Haryanto (2009) empat
tingkatan tersebut
adalah
: pertama Tidak menyadari merek (Brand Unaware) pada tingkat ini
konsumen tidak sadar akan
keberadaan
merek-merek di pasaran, dan didalam benaknya semua merek adalah sama dengan
tidak
mempedulikan
kualitas dari merek tersebut. Kedua Pengenalan merek (Brand
Recognition) pada
tingkat
ini konsumen mampu untuk mengenali merek dan memberikan nama merek sebagai
petunjuk,
dengan
diberikan rangsangan yang cukup besar mengenai satu kategori produk tertentu. Ketiga
Pengingatan
kembali merek (Brand Recall) pada tingkat ini konsumen konsumen tidak
perlu diberikan
suatu
rangsangan untuk menyebutkan merek-merek tertentu didalam pasaran. Keempat puncak
pikiran
(Top of Mind) adalah merek yang pertama kali muncul didalam benak
seorang konsumen dan
disebutkan
ketika ditanya mengenai sebuah kategori produk yang ada di pasaran.
Hal
ini berarti merek dari produk tersebut telah mencapai tingkat kesadaran yang
tinggi didalam benak
konsumen
dan merek tersebut dapat dikatakan sebagai pimpinan merek didalam kategori
merek
tersebut.
Peran brand awareness terhadap brand equity dapat dipahami dengan
membahas
bagaimana
brand awareness menciptakan suatu nilai.
Intensi didefinisikan sebagai kemungkinan subyektif
individu untuk melakukan suatu perilaku (Gunter & Furnham dalam Haryanto,
2009). Intensi juga merupakan unit dasar dalam jaringan rencana yang akan muncul
ketika seorang individu hendak melakukan suatu aktivitas kognitif yang berorientasi
kepada
masa
depan, seperti perencanaan, berangan-angan, perenungan, dan simulasi mental
(Rook, 1987
dalam
Haryanto, 2009). Menurut Soderlund dan Ohman dalam Haryanto (2009), Intensi
terbagi menjadi
tiga
jenis konstruk yaitu : (1) intensi sebagai harapan (2) intensi sebagai rencana
(3) intensi sebagai
keinginan.
Kebanyakan orang lebih sering menggunakan konstruk intensi sebagai harapan,
karena itu
konstruk
ini lebih popular dibandingkan dengan dua konstruk yang lain (Rook,1987 dalam
Haryanto,
2009).
Dalam jurnal Natasya Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
“ Berdasarkan hasil perhitungan
distribusi frekuensi nilai mean pada variabel Viral Marketing (X)
sebesar 3,25 menunjukan rata-rata responden pada indikator varibael Viral
Marketing (X) adalah setuju. Variabel Viral Marketing (X) yang
terdiri dari rekomendasi, newsletter, lingking strategies, komunitas, free
offer, reference list, product test. Berdasarkan hasil perhitungan secara
statistik, yang menunjukan bahwa variabel Viral Marketing (X)
berpengaruh terhadap Kepercayaan Pelanggan (Z) dengan nilai Standarized
Coefficient Beta sebesar 0,763. Nilai probabilitas Sig 0,000 (0,000
< 0,05), maka dari itu hipotesis yang menyatakan bahwa Viral Marketing (X)
berpengaruh signifikan terhadap Kepercayaan Pelanggan (Y) dapat diterima.
Kepercayaan pada pelanggan yang
dihasilkan dari kepuasaan akan produk yang telah di beli melalui pembelian online,
yang akhirnya konsumen akan menyebarkan atau menyampaikan tentang produk
tersebut kepada teman, tetangga atau keluarganya. Menurut Kotler dan Armstrong
(2004:90) menyatakan bahwa “Viral marketing is the internet version of
word-of-mouth marketing, that involves creating an e-mail massage or other
marketing event that is so infectious that customers will want to pass it along
to their friend”. Artinya, bahwa versi internet dari penggunaan pemasaran
dari mulut ke mulut, yang sangat berhubungan dengan menciptakan email atau
pemasaran yang sangat menular sehingga konsumen mau menyampaikan kepada temen
mereka. Kepercayaan Pelanggan (Z) berpengaruh signifikan terhadap Keputusan
Pembelian (Y) dapat diterima”.
Dalam Jurnal Natasya
Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
“Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Viral Marketing (X) mempunyai
pengaruh terhadap Keputusan Pembelian (Y). Viral Marketing (X) memberikan
pengaruh secara langsung terhadap Keputusan Pembelian (Y) sebesar nilai 0,247
dengan nilai probabilitas t sebesar 0,034 (0,034 < 0,05). Maka secara
langsung variabel Viral Marketing (X)
mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat yaitu Keputusan
Pembelian (Y) dapat diterima.
Konsumen
akan lebih tertarik pada suatu produk yang telah di beli oleh teman, keluarga
atau tetangganya. Lebih percaya opini mereka dan mudah terpengaruh oleh apa
yang dilakukan mereka. Kotler (2002:638) mengatakan bahwa komunikasi dari mulut
ke mulut bersifat lebih meyakinkan.Kata-kata yang keluar dari mulut merupakan
satu-satunya promosi yang berawal dari konsumen oleh konsumen dan untuk
konsumen”.
Dalam Jurnal Natasya
Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
“Hasil distribusi frekuensi menunjukan bahwa nilai mean
pada variabel Kepercayaan Pelanggan (Z) adalah sebesar 3,67 yang menunjukan
bahwa rata-rata responden pada indikator variabel Kepercayaan Pelanggan (Z)
adalah setuju. Berdasarkan perhitungan statistik, diperoleh bahwa variabel
Kepercayaan Pelanggan (Z) berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian (Y). Hal ini
berdasarkan nilai Standarized Coefficient Beta sebesar 0,401, nilai
probabilitas Sig 0,001 (0,001< 0,05). Jadi, dapat dinyatakan bahwa
hipotesis yang menyatakan bahwa variabel Kepercayaan Pelanggan (Z) berpengaruh
signifikan terhadap Keputusan Pembelian (Y) dapat diterima.
Kepercayaan
pelanggan ditunjukan dari desain website dan foto yang menarik dapat
meningkatkan rasa percaya konsumen serta pada saat konsumen melakukan transaksi
pembayaran dengan mengirimkan informasi transaksi pembayaran dan data pribadi
lainnya.Menurut Egger (2006) cukup percaya perlu ada ketika menempatkan pesanan
online dan ketika konsumen mengirimkan informasi keuangan dan data pribadi
lainnya dalam melakukan transaksi keuangan”.
Dalam Jurnal Natasya
Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
“Selain iklan yang
bagus, internet marketing dapat
dilakukan dengan mengadakan promo-promo dengan memberikan sampel produk gratis
selama beberapa waktu atau program-program kupon diskon yang sengaja dibuat
oleh perusahaan untuk menarik dan membuat produknya dibicarakan, dipromosikan,
bahkan dijual oleh konsumennya sendiri (Amplified WOM) .Semakin program-program
dan produk-produk yang ditawarkan unik dan lain daripada yang lain dan
menguntungkan konsumen maka akan semakin besar kemungkinannya untuk dibicarakan
diantara konsumen karena konsumen merasa puas dan dihargai, bukan sebagai obyek
pemasaran lagi tapi lebih kepada partner bagi perusahaan. Seorang
konsumen yang puas, dilayani, dan diperhatikan, mempunyai potensi besar untuk
dapat menjadi fans merek produk tertentu yang membuatnya menjadi profitable
talkers bagi perusahaan (SWA 08/XXV/16-29 April 2009). Contoh kasus adalah
Neistat bersaudara yang tidak puas dengan salah satu produk apple, yaitu ipod
yang kemudian menyebarkan Negatif word of mouth kepada jutaan orang
melalui internet. Namun melalui program public relation internet, pihak
Apple dapat meredam “kemarahan” neistat bersaudara dengan mendengarkan,
menerima komplain, dan bahkan menjadikannya sebagai dasar pembuatan kebijakan
baru bagi perusahaan. Hal ini membuat neistat bersaudara kemudian berbalik 180
derajat menjadi corong ipod yang paling menguntungkan tanpa dibayar
sepeser pun (SWA, edisi 11-24 juni 2009). Dari kasus ini dapat disimpulkan
bahwa semakin perusahaan dapat mengelola internet marketing dengan baik maka
akan semakin besar kemungkinannya perusahaan dan produknya dijadikan bahan pembicaraan
di kalangan konsumen. Dari penjelasan diatas maka peneliti merumuskan hipotesis
penelitian (H2) sebagai berikut : “Semakin
baik internet marketing dikelola oleh perusahaan, maka merek produk perusahaan
tersebut akan
semakin banyak dibicarakan oleh konsumen”.
Dalam Jurnal Natasya
Putri Andini Suharyono Sunarti tahun 2013 dikatakan :
“Produk dibagi kedalam
banyak kategori. Menurut hasil survey SWA dengan Octovate Consulting Group (2009)
didalam setiap kategori produk terdapat merek-merek yang menguasai dan menjadi Top
of mind dibenak konsumen, dan menjadikannya merek-merek yang paling banyak
direkomendasikan oleh seorang konsumen ketika seseorang menanyakan mengenai
kategori produk tersebut kepadanya (disebut pertamakali). Hal ini menunjukkan
kaitan yang erat antara tingkat kesadaran merek seorang konsumen dengan seberapa
sering sebuah merek akan dibicarakan dari konsumen ke calon konsumen
berikutnya. Dari penjelasan diatas maka peneliti merumuskan hipotesis
penelitian (H4) sebagai berikut : “semakin
tinggi
tingkat kesadaran merek didalam benak seorang konsumen, maka akan
semakin sering merek tersebut dibicarakan oleh seorang konsumen kepada calon
konsumen berikutnya”.
Seorang
konsumen akan cenderung lebih percaya terhadap rekomendasi melalui jalur WOM
daripada
metode
promosi formal dikarenakan pemberi rekomendasi diyakini berbicara jujur,tulus
dan tidak
ditunggangi
oleh motif tersembunyi (Sumber : SWA 08/XXV/16-29 April 2009). Solomon (1999)
mengatakan
bahwa WOM lebih kuat dari pada iklan-iklan mewah yang dibuat oleh perusahaanperusahaan.
Pendapat
ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Cleland (2000) yang juga
mengatakan
bahwa
word of mouth cenderung lebih efektif dalam pemasaran sebuah produk.
Para pemasar
menemukan
bahwa WOM telah mempengaruhi kurang lebih dua per tiga penjualan barang-barang
konsumen,
dan bahkan survey menunjukkan bahwa 69% konsumen membeli sebuah produk
berdasarkan
anjuran dari seseorang yang telah dikenalnya. Tidak ada satu pun iklan atau
penjual yang
akan
mampu meyakinkan seorang konsumen secara persuasive tentang kualitas sebuah
produk
kecuali
seorang teman, kenalan, pelanggan lama atau ahli yang independen (Kotler dalam
SWA
08/XXV/16-29
APRIL 2009).
Survey
yang dilakukan oleh SWA dan Octovate consulting Group juga menemukan bahwa 67,78%
konsumen
memutuskan untuk membeli sebuah produk yang direkomendasikan melalui jalur WOMM
(word
of mouth marketing). Didukung oleh hasil Survey Nielsen
Online Global Customer (2007) yang
juga
menemukan bahwa sekitar 91% konsumen membeli sebuah produk berdasarkan
rekomendasi
dari
pengguna lain atau temannya.
Dari
penjelasan diatas maka peneliti merumuskan hipotesis penelitian (H6) sebagai
berikut : “semakin
banyak
positif word of mouth yang diterima oleh seorang bakal konsumen, maka akan
semakin tinggi
minat
untuk membeli yang terbentuk didalam diri bakal konsumen”
Berdasarkan 15 jurnal
tentang viral marketing, penulis memaparkan makalah viral marketing dan
memberikan beberapa kesimpulan tentang makalah ini. Beberapa kesimpulan
tersebut yaitu :
1.
1 Viral
Marketing terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap Kepercayaan
Pelanggan. Hal tersebut berarti Viral Marketing telah memberikan nilai
dan pengaruh terhadap Kepercayaan Pelanggan.
2.
Viral
Marketing terbukti memiliki pengaruh
signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Hal tersebut berarti kinerja Viral
Marketing telah mampu membantu konsumen dalam melakukan Keputusan
Pembelian.
3.
Kepercayaan
Pelanggan terbukti menjadi variabel intervening dalam hubungan Viral
Marketing dengan Keputusan Pembelian. Hal tersebut berarti jika Viral
Marketing meningkat dan memberikan kinerja yang baik, maka Kepercayaan
Pelanggan akan semakin membaik sehingga akan mempengaruhi Keputusan Pembelian.
“Semakin baik internet marketing dikelola
oleh pelaku
organisasi, maka merek produk tersebut akan semakin banyak dibicarakan oleh
konsumen ”
4.2 Saran
1.perkembangan viral marketing yang pesat dibutuhkan
adanya peraturan yang khusus mengatur mengenai viral marketing
2.Seorang pemasar harus lebih memahami tentang cara
memasarkan suatu produk dengan cara terbaru atau trend terbaru yang lebih
dipahami masyarakat
3.Memberikan informasi yang
detail dan akurat mengenai produk yang ditawarkan akan meningkatkan
pengetahuaan konsumen terhadap produk khususnya mengenai Viral Marketing,
sehingga memudahkan konsumen dalam mengevaluasi produk untuk membantu dalam pengambilan
keputusan


0 komentar:
Posting Komentar